A. Pendahuluan
Kamus
Lengkap Bahasa Indonesia menjelaskan bahwa kata menulis berasal dari kata
tulis. Tulis adalah ada huruf (angka dan sebagainya) yang dibuat (digurat dan
sebagainya) dengan pena (pensil, cat, dan sebagainya). Menulis adalah membuat
huruf, angka , dan sebagainya dengan pena, pensil, cat, dan sebagainya
melahirkan pikiran atau perasaan seperti mengarang, membuat surat, dan
sebagainya dengan tu-lisan. Selanjutnya menulis adalah menuangkan gagasan, pendapat,
perasaan, keingi-nan, dan kemauan, serta informasi ke dalam tulisan dan
kemudian “mengirimkannya” kepada orang lain (Syafi’ie,1998:45).
Selain itu, menulis juga merupakan suatu aktivitas komunikasi yang menggunakan
bahasa sebagai medianya. Wujudnya berupa tulisan yang terdiri atas rangkaian
huruf yang bermakna dengan semua kelengkapannya, seperti ejaan dan tanda baca.
Menulis juga suatu proses penyampaian gagasan, pesan, sikap, dan pen-dapat
kepada pembaca dengan simbol-simbol atau lambang bahasa yang dapat dilihat dan
disepakati bersama oleh penulis dan pembaca.
Ada beberapa
persyaratan yang sebaiknya dimiliki seorang siswa untuk meng-hasilkan tulisan
yang baik. Syafi’ie (1988:45) mengemukakan bahwa syarat-syarat tersebut adalah
(1) kemampuan untuk menemukan masalah yang akan ditulis, (2) ke-pekaan terhadap
kondisi pembaca, (3) kemampuan menyusun rencana penulisan, (4) kemampuan
menggunakan bahasa, (5) kemampuan memulai tulisan, dan (6) kemam-puan memeriksa
tulisan.
Menulis
berarti menyampaikan pikiran, perasaan, atau pertimbangan melalui tulisan.
Alatnya adalah bahasa yang terdiri atas kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf,
dan wacana. Pikiran yang di-sampaikan kepada orang lain harus dinyatakan dengan
kata yang mendukung makna secara tepat dan sesuai dengan apa yang ingin
dinyatakan. Kata-kata itu harus disusun secara teratur dalam klausa dan kalimat
agar orang dapat menangkap apa yang ingin disampaikan itu. Makin teratur bahasa
yang digunakan, makin mudah orang menang-kap pikiran yang disalurkan melalui
bahasa itu. Oleh karena itu, keterampilan menulis di sekolah sangatlah penting.
Menurut
Akhadiah dkk (1998:1.3) menulis adalah suatu aktivitas bahasa yang menggunakan
tulisan sebagai mediumnya. Tulisan itu sendiri atas rangkaian huruf yang
bermakna dengan segala kelengkapan lambang tulisan seperti ejaan dan
pung-tuasi. Sebagai salah satu bentuk komunikasi verbal (bahasa), menulis juga
dapat dide-finisikan sebagai suatu kegiatan penyampaian pesan dengan
menggunakan tulisan sebagai mediumnya. Pesan adalah isi atau muatan yang
terkandung dalam suatu tulisan. Adapun tulisan merupakan sebuah sistem
komunikasi antarmanusia yang menggunakan simbol atau lambang bahasa yang dapat
dilihat dan disepakati pemakainya. Di dalam komunikasi tertulis terdapat empat
unsur yang terlibat. Keempat unsur itu adalah (1) penulis sebagai penyampai
pesan, (2) pesan atu isi tulisan, (3) saluran atau medium tulisan, dan (4)
pembaca sebagai penerima pesan.
Menulis pada hakikatnya adalah suatu
proses berpikir yang teratur, sehingga apa yang ditulis mudah dipahami pembaca.
Sebuah tulisan dikatakan baik apabila memiliki ciri-ciri, antara lain bermakna,
jelas, bulat dan utuh, ekonomis, dan meme-nuhi kaidah gramatika.
Kemampuan menulis adalah kemampuan seseorang untuk menuangkan buah pikiran,
ide, gagasan, dengan mempergunakan rangkaian bahasa tulis yang baik dan benar.
Kemampuan menulis seseorang akan menjadi baik apabila dia juga memiliki: (a)
kemampuan untuk menemukan masalah yang akan ditulis, (b) kepekaan terhadap
kondisi pembaca, (c) kemampuan menyusun perencanaan penelitian, (d) kemampuan
menggunakan bahasa indonesia, (e) kemampuan memuali menulis, dan (f) kemam-puan
memeriksa karangan sendiri. Kemampuan tersebut akan berkembang apabila
ditunjang dengan kegaiatan membaca dan kekayaan kosakata yang dimilikinya.
Suatu tulisan pada dasarnya terdiri atas dua hal. Pertama, isi suatu tulisan
menyampaikan sesuatu yang inggin diungkapkan penulisnya. Kedua, bentuk yang
merupakan unsur mekanik karangan seperti ejaan, pungtuasi, kata, kalimat, dan
alenia Akhadiah, (1997:13). Sementara itu, WJS Poerwodarminto (1987:105) secara
leksi-kal mengartikan bahwa menulis adalah melahirkan pikiran atau ide. Setiap
tulisan harus mengandung makna sesuai dengan pikiran, perasaan, ide, dan emosi
penulis yang disampaikan kepada pembaca untuk dipahami tepat seperti yang
dimaksud pe-nulis.
Pendapat lainnya menyatakan bahwa menulis adalah keseluruhan rangkaian kegiatan
seseorang dalam mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis
kepada pembaca seperti yang dimaksud oleh pengarang. Agar komunikasi lewat
lambang tulis dapat tercapai seperti yang diharapkan, penulis hendaklah
menuangkan ide atau gagasannya kedalam bahasa yang tepat, teratur, dan lengkap.
Dengan demikian, bahasa yang dipergunakan dalam menulis dapat menggambarkan
suasana hati atai pikiran penulis. Sehingga dengan bahsa tulis seseorang akan
dapat menuang-kan isi hati dan pikiran.
Kata keterampilan berbahasa mengandung dua asosiasi, yakni kompetensi dan
performansi. Kompetensi mengacu pada pengetahuan konseptual tentang sistem dan
kaidah kebahasan, sedangkan performansi merujuk pada kecakapan menggunakan
sistem kaidah kebahasaan yang telah diketahui untuk berbagai tujuan penggunaan
komunikasi. Seseorang dikatakan terampil menulis apabila ia memahami dan
mengaplikasikan proses pegungkapan ide, gagasan, dan perasaan dalam bahasa
Indonesia tulis dengan mempertimbangkan faktor-faktor antara lain ejaan dan
tata bahasa, organisasi/ susunan tulisan, keutuhan (koherensi), kepaduan
(kohesi), tujuan, dan sasaran tulisan.
HAKIKAT
MENULIS
A.
Hakikat
Menulis
Seseorang
dengan menulis dapat mengungkapkan pikiran dan gagasan untuk mencapai maksud
dan tujuannya. Tarigan (1982:21) mengatakan bahwa menulis ialah menurunkan atau
melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami
oleh seseorang, sehingga orang-orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik
tersebut, kalau mereka memahami bahasa dan gambaran tersebut. Senada dengan
Tarigan, Nurudin (2007:4) menyebutkan bahwa menulis adalah segenap rangkaian
kegiatan seseorang dalam rangka mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya
melalui bahasa tulis kepada orang lain agar mudah dipahami. Definisi menulis
ini mengungkapkan bahwa menulis yang baik adalah menulis yang bisa dipahami
oleh orang lain, sedangkan Wiyanto (2004:1-2) menyebutkan bahwa menulis
mempunyai mempunyai dua arti. Pertama,
menulis berarti mengubah bunyi yang dapat didengar menjadi tanda-tanda yang
dapat dilihat. Bunyi-bunyi yang dirubah itu bunyi bahasa (bunyi yang berasal
dari alat ucap manusia). Kedua, kata menulis mempunyai arti kegiatan
mengungkapkan gagasan secara tertulis. Gagasan yang telah ditulis kemudian
ditampung oleh pembaca dengan cara membaca.
Akhadiah (1988:2) mengatakan bahwa kemampuan menulis merupakan kemampuan
yang kompleks, yang menuntut sejumlah pengetahuan dan keterampilan. Untuk
menulis karangan yang sederhana, secara teknis seseorang dituntut memenuhi
persyaratan dasar seperti menulis karangan yang rumit. Suparno (2007:13) mendefinisikan bahwa menulis sebagai suatu kegiatan
penyampaian pesan (komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat
atau medianya. Dalam komunikasi tulis paling tidak terdapat empat unsur yang
terlibat: penulis sebagai penyampai pesan (penulis), pesan atau isi tulisan,
saluran atau media berupa tulisan, dan pembaca sebagai penerima pesan.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa menulis merupakan salah satu
keterampilan berbahasa yang digunakan untuk mengungkapkan pikiran atau gagasan
dan untuk menyampaikan pesan (komunikasi) melalui bahasa tulis sebagai alat
atau medianya, sehingga mudah untuk dipahami oleh pembaca. Kemampuan menulis
merupakan kemampuan yang kompleks, yang menuntut sejumlah pengetahuan dan
keterampilan. Dalam komunikasi tulis paling tidak terdapat empat unsur yang
terlibat, yaitu: penulis sebagai penyampai pesan, pesan atau isi tulisan,
saluran atau media berupa tulisan, dan pembaca sebagai penerima pesan.
B.
Pengertian
Menulis
Apa itu
menulis?
Menulis
adalah sebuah kegiatan menuangkan pikiran, gagasan, dan perasaan seseorang yang
diungkapkan dalam bahasa tulis. Dalam pengertian yang lain, menulis adalah
kegiatan untuk menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan yang
diharapkan dapat dipahami oleh pembaca dan berfungsi sebagai alat komunikasi
secara tidak langsung. Dengan demikian, dapat kita tegaskan bahwa pengertian
menulis adalah kegiatan seseorang untuk menyampaikan gagasan kepada pembaca
dalam bahasa tulis agar bisa dipahami oleh pembaca.
Menurut KBBI, pengertian menulis adalah melahirkan pikiran atau
perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan. Menulis berarti
menuangkan isi hati si penulis ke dalam bentuk tulisan, sehingga maksud hati
penulis bisa diketahui banyak orang orang melalui tulisan yang dituliskan.
Kemampuan seseorang dalam menuangkan isi hatinya ke dalam sebuah tulisan
sangatlah berbeda, dipengaruhi oleh latar belakang penulis. Dengan demikian,
mutu atau kualitas tulisan setiap penulis berbeda pula satu sama lain. Namun,
satu hal yang penting bahwa terkait dengan aktivitas menulis, seorang penulis
harus memperhatikan kemampuan dan kebutuhan pembacanya.
Menurut kami Menulis berarti, menyampaikan suatu
pendapat, gagasan, ide yang ada dalam otak kita dan menuangkannya kedalam suatu
media atau tulisan agar dapat dibaca oleh semua pembaca. Dengan menulis kita
juga dapat berkreativitas dan dapat mengembangkannya lewat sebuah tulisan.
Tidak banyak orang yang suka menulis karena mereka merasa tidak memiliki bakat
untuk menulis serta tidak tahu bagaimana dan apa yang akan ditulis.
Keterampilan
menulis tidak akan datang secara otomatis, tetapi harus memulai latihan dan
praktik yang banyak dan teratur. Dalam kehidupan modern ini, jelas bahwa
keterampilan menulis sangat dibutuhkan. Kiranya tidaklah terlalu berlebihan
bila kita katakan bahwa keterampilan menulis merupakan ciri dari orang yang
terpelajar atau bangsa yang terpelajar. Sehubungan dengan hal ini, ada seorang
penulis yang mengatakan bahwa “menulis” dipergunakan melporkan atau
memberitahuan, dan mempengaruhi, dan maksud serta tujuan seperti itu hanya
dapat dicapai dengan baik oleh orang-orang yang dapat menyusun pikirannya dan
mengutarakannya dengan jelas. Kejelasan ini bergantung pada pikiran,
organisasi, pemakaian kata-kata, dan struktur kalimat.(Morsey,1976:122)
Ø Definisi
menulis menurut para ahli ;
Menurut Djuharie (2005:120) menulis merupakan suatu
keterampilan yang dapat dibina dan dilatih. Pranoto (2004:9) menulis berarti
menuangkan buah pikiran kedalam bentuk tulisan atau menceritakan sesuatu kepada
orang lain melalui tulisan.
Menurut Henry Guntur Tarigan (1986:15) menyatakan
bahwa menulis dapat diartikan sebagai kegiatan menuangkan ide/gagasan dengan
menggunakan bahasa tulis sebagai media penyampai. Burhan Nurgiantoro (1988:273)
menyatakan bahwa menulis adalah aktivitas aktif produktif , yaitu aktivitas
yang menghasilkan bahasa.
C. Fungsi Menulis
Pada prinsipnya fungsi utama dari tulisan adalah
sebagai berikut:
sebagai alat komunikasi
yang tidak langsung. Menulis sangat penting bagi pendidikan karena memudahkan
para pelajar berfikir.
Juga dapat menolong
kita berfikir kritis. Juga dapat mempermudahkan kita merasakan
hubungan-hubungan,
memperdalam daya
tanggap atau persepsi kita, memecahkan masalah-masalah yang kita hadapi,
menyusun urutan bagi pengalaman.
Sarana untuk mengungkapkan diri yaitu untuk mengungkapkan
perasaan hati seperti kegelisahan, keinginan amarah.
Menulis sebagai sarana pemahaman artinya dengan
menulis seseorang bisa mengikat kuat suatu ilmu pengetahuan dan pemahaman
kedalam otaknya.
D. Tujuan Menulis
Tujuan penulisan yang dikemukakan
oleh Hugo Harting ditulis oleh Tarigan(1994:24)
adalah:
- Assignment purpose (tujuan penugasan).
Tujuan penugasan ini sebenarnya tidak mempunyai tujuan
sama sekali. Penulis menulis sesuatu karena ditugaskan, bukan atas kemauan
sendiri (misalnya para siswa yang diberi tugas merangkum buku; sekretaris yang
di tugaskan membuat laporan, notulen rapat)
2. Altruistic purpose (tujuan altruistic)
Penulisan bertujuan untuk menyenangkan para pembaca,
menghindarkan kedukaan para pembaca, ingin menolong para pembaca memahami,
menghargai perasaan dan penalarannya , ingin membuat hidup para pembaca lebih
muda dan lebih menyenangkan dengan karya itu. Tujuan altruistic adalah kunci
keterbacaan sesuatu tulisan
3. Persuasive purpose (tujuan persuasive)
Tujuan yang bertujuan menyakinkan para pembaca akan kebenaran gagasan yang
di utarakan.
4. Informational purpose (tujuan informasional, tujuan penerangan)
Tujuan yang bertujuan memberi informasi atau keterangan atau penerangan
kepada para pembaca
5. Self – expressive purpose (tujuan pernyataan diri)
Tujuan yang bertujuan memperkenalkan atau menyatakan diri sang pengarang
kepada para pembaca
6. Creative purpose (tujuan kreatif)
Tujuan ini erat berhubungan dengan tujuan pernyataan
diri. Tetapi “keinginan kreatif” disini melebihi pernyataan diri dan melibatkan
dirinya dengan keinginan mencapai norma artistic, atau seni yang ideal, seni
idaman. Tulisan yang bertujuanmencapai nilai artistic, nilai-nilai kesenian.
7. Problem-solving purpose (tujuan pemecahan masalah)
·
Abdurrahman dan Waluyo (2000: 223) menyatakan
bahwa “tujuan menulis siswa di sekolah dasar untuk menyalin, mencatat, dan
mengerjakan sebagian besar tugas-tugas yang diberikan di sekolah dengan harapan
melatih keterampilan berbahasa dengan baik”.
·
Menurut Syafie’ie (1988:51-52), tujuan
menulis dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1) Mengubah keyakinan pembaca;
2) Menanamkan pemahaman sesuatu terhadap pembaca;
3) Merangsang proses berpikir pembaca;
4) Menyenangkan atau menghibur pembaca;
5) Memberitahu pembaca; dan
6) Memotivasi pembaca.
KOHESI DAN
KOHERESI
A.
Definisi
kohesi dan koherensi
Pengertian
kohesi menurut beberapa tokoh:
a. Tarigan
(1987 : 96 )
Kohesi atau kepaduan wacana menurut aspek
formal bahasa dalam wacana.
b. Menurut Gutwinsky
dalam Tarigan (1987 : 97 )
Kohesi atau kepaduan wacana ialah hubungan
antar kalimat di dalam sebuah wacana, baik dalam strata gramatikal maupun dalam
strata leksikal tertentu.
c. Menurut Halliday
dan Hasan dalam Tarigan (1987 : 97 )
Dalam kohesi menggunakan penanda yang dipakai
untuk menandai kohesif.
Kohesi
secara umum dapat kita artikan sebagai keserasian hubungan antar
unsur yang satu dengan unsur yang lain dalam wacana. Kohesi mengacu pada aspek
bentuk atau aspek formal bahasa, dan wacana itu terdiri dari kalimat-kalimat.
B.
Pengertian koherensi
Koherensi adalah pengaturan secara rap kenyataan dan
gagasan, fakta dan ide menjadi suatu untaian yang logis sehingga mudah memahami
pesan yang dikandungnya menurut ( Wohl, 1978 : 25).
C.
Jenis-jenis
kohesi dan koherensi
a. Kohesi
Gramatikal
Kohesi gramatikal adalah
kepaduan bentuk bagian-bagian wacana yang
diwujudkan ke dalam sistem gramatikal.
Secara lebih rinci, aspek gramatikal wacana
meliputi:
1. Pengacuan
( Refrensi )
Pengacuan
atau referensi adalah salah satu jenis kohesi gramatik yang merupakan satuan
lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain yang mendahului atau
mengikutinya. Berdasarkan tempatnya, apakah acuan itu berada di dalam teks atau
di luar teks, maka pengacuan dibedakan menjadi dua jenis yakni (1) pengacuan endofora, apabila acuannya berada
atau terdapat dalam teks wacana itu, (2) pengacuan eksofora, apabila acuannya
berada atau terdapa di luar teks.
2. Subtitusi.
Subtitusi
adalah hasil penggantian unsure bahasa oleh unsure lain dalam satuan yang lebih
besar untuk memperoleh unsure-unsur
pembeda atau untuk menjelaskan suatu struktur tertentu. Subtitusi merupakan
hubungan gramatikal, lebih bersifat
hubungan kata dan makna. Subtitusi dalam bahasa Indonesia dapat bersifat
nominal, verbal, klausal, atau campuran.
3. Elipsis
Elipsis
adalah peniaadaan kata atau satuan lain yang ujud asalanya dapat diramalkan
dari konteks bahasa atau luar bahasa. Ellipsis dapat pula dikatakan penggantian
nol ; sesuatu yang ada tetapi tidak diucapakan atau tidak dituliskan.
4. Konjungsi
Konjungsi
adalah yang dipergunakan untuk menggabungkan kata dengan kata, frasa dengan
frasa, kalusa dengan klausa, kalimat denagn kalimat, atau peragraf dengan
paragraph.
Konjungsi
dalam bahasa Indonesia dapat dikelompokkan atas :
- konjungsi
adversative : tetapi, namun
- konjungsi
kausal : sebab, karena
-
konjungsi korelatif : entah/entah, baik/maupun
-
konjunsi subordinatif : meskipun, kalau, bahwa
-
konjungsi temporal : sebelum, sesudah
b. Kohesi
Leksikal
Kohesi leksikal adalah hubungan antar unsur dalam wacana secara semantik. Hubungan kohesif yang diciptakan atas dasar aspek
leksikal, dengan pilihan kata yang serasi, menyatakan hubungan makna atau
relasi semantik antara satuan lingual yang satu dengan satuan lingual yang lain
dalam wacana.
Aspek leksikal dalam wacana dibedakan menjadi
enam yakni :
1. Repetisi
Repetisi adalah pengulangan satuan lingual yang
dianggap
penting untuk memberi tekanan dalam sebuah
konteks yang sesuai.
2. Sinonim
Sinonim dapat diartikan sebagai nama lain untuk
benda atau hal yang sama atau ungkapan yang makna nya kurang lebih sama dengan
ungkapan lain. Sinonim merupakan salah satu aspek leksikal untuk mendukung
kepaduan wacana.
3. Antonim
Antonim dapat diartikan sebagai nama lain untuk
benda atau hal yang lain, satuan lingual yang maknanya berlawan/berposisi dengan
satuan lingual yang lain.
4. Kolokasi
Kolokasi atau sanding kata adalah asosiasi
dalam menggunakan pilihan kata yang
cenderung digunakan secara berdampingan.
5. Hiponim
Hiponim dapat diartikan sebagai satuan bahasa
yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna satuan lingual yang lain.
6. Ekuivalen
( kesepadanan)
Ekuivalen adalah hubungan kesepadanan antara satuan lingual tertentu
dengan satuan lingual yang lain dalam sebuah paradigma. Dalam hal ini, sejumlah
kata hasil proses afiksasi dari morfem asal yang sama menunjuk adanya hubungan
kesepadanan.
PENGGOLONGAN
TULISAN
A.
Peggolongan tulisan berdasarkan
bentuk
Menurut The Liang Gie, penggolongan tulisan menurut bentuk meliputi
cerita, lukisan, paparan dan argumentasi. Namun bias juga ditambah dengan
persuasi. Alasannya, persuasi juga merupakan bentuk yang mempunyai cirri,
kepentingan dan tujuannya sendiri disamping keempatnya yang lain. Iklan
merupakan bentuk tulisan persuasi yang mempunyai cirri tersendiri. Dengan
demikian, didasarlkan pada bentuk, tulisan terdiri dari cerita (narasi),
lukisan (deskripsi), paparan (eksposisi), argumentasi (pendapat) dan persuasi.
Nurudin (2010:50).
B.
Penggolongan menurut ragam
Penggolongan tulisan berdasarkan ragam di bagi menjadi dua
yaitu tulisan faktawi dan tulisan khayali. Tulisan faktawi adalah tulisan yang
diolah berdasarkan fakta-fakta yang ada. Dengan kata lain, tulisan yang
dihasilkan bukan karena rekayasa seseorang.
Ia juga bukan cerita bohongyang sengaja dibuat untuk cerita tertentu.
Fakta ini sering disebut dengan unsure 5W+1H (who, where, when, what, why dan how) dalam jurnalistik.
Sementara itu, tulisan khayali adalah tulisan yang tidak
menuntut adanya fakta-fakta seperti ragam tulisan faktawi. Tulisan ini lebih
didasarkan pada daya imajinasi seseorang penulis. Jadi, penulis diberikan
kewenangan penuh untuk menulis apa saja yang ia kehendaki. Nurudin (2010:52).
C.
Penggolongan tulisan berdasarkan
jenis
Penggolongan
tulisan berdasarkan jenis merupakan pecahan dari ragam tulisan. Ragam tulisan
faktawi memunculkan dua jenis tulisan yaitu tulisan ilmiah dan tulisan
informatif. Sedangkan ragam tulisan khayali juga memunculkan dua jenis tulisan
yaitu prosa dan puisi.
Tulisan ilmiah adalah tulisan yang selam
ini dilakukan dikalangan ilmuan atau sivitas akademika (tulisan kependidikan
dan penelitian). Bisa juga dilakukan oleh kebanyakan orang, hanya dasar-dasar,
sistematika dan penyusunannya memakai kaidah ilmiah yang sudah digariskan.
Tulisan ilmiah cenderung kaku karena harus
memakai format tertentu. Ia tidak bias ditulis menurut kehendak penulisnya.
Dukungan literature, dat cukup dan analisis, biasa menyertai tulisan ilmiah.
Sementara itu, tulisan informatif adalah
tulisan yang tujuan utamanya memberikan informasi sebuah peristiwa atau
kejadian (laporan). Tulisan ini biasa melekat pada media massa(cetak dan
elektronik). Tulisan dibuat semaksimal mungkin agar mudah dipahami pembaca,
pendengar dan penontonya. Tulisan ini umumnya menggunakan bahasa populer dan
tidak kaku seperti tulisan ilmiah, namun masih tetap menggunakan kaidah
tertentu.
Tulisan informative bias juga berupa
ulasan. Ulasan adalah komentar tentang suatu kejadian dengan melihatnya dari
sudut pandang tertentu. Nurudin (2010:53).
D.
Penggolongan tulisan berdasarkan
rumpun
Penggolongan
tulisan berdasarkan jenis memunculkan penggolongan tulisan berdasarkan rumpun.
Penggolongan tulisan ini dipetakan sebagai berikut.
Rumpun
Tulisan
E.
Penggolongan
tulisan berdasarkan berdasarkan macam
Penggolongan tulisan berdasarkan macam dipetakan sebagai berikut.
Jenis Tulisan - Macam Tulisan - Rumpun
Tulisan
Nurudin (2010:56).
KARYA
ILMIAH
A.
Pengertian
Karya Ilmiah
Brotowijojo
(1985) dalam buku Maimunah mengemukakan
bahwa karya ilmiah adalah karya tulis yang di dalamnya menyajikan fakta yang
disusun berdasarkan metodologi penulisan baik dan benar.
Dwiloka (2005) dalam Nasucha
mengartikan,karya ilmiah adalah hasil pemikiran ilmiah seseorang ilmuan (yang
berupa hasil pengembangan) yang ingin mengembangkan imu
pengetahuan,teknologi,dan seni yang di peroleh melalui kepustakaan,kumpulan
pengalaman,dan pengetahuan orang lain sebelumnya.
B.
Ruang Lingkup Karya Ilmiah
1. Penelitian
Penelitian adalah kegiatan
penyelidikan yang di lakukan menurut metode ilmiah yang sitematis untuk
menemukan informasi ilmiah dan teknologi
yang baru.Tulisan ilmiah di hasilkan dari sebuah penelitian dengan metode yang
sangat ketat.Di samping itu,penelitian juga mempunyai tujuan untuk menemukan
sesuatu yang baru yang berguna bagi masyarakat umum,termasuk membuktikan
kebenaran baru yang juga bisa berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan
generasi selanjutnya.
2.
Pengembangan
Yang
di maksud dengan tulisan ilmiah pengembangan adalah :
a.
Kegiatan guru atau dosen dalam rangka pengamalan ilmu dan
pengetahuan,teknologi,dan pengetahuan untuk peningkatkan mutu baik bagi mutu
belajar mengajar atau profesionalisme.
b.
Tindak lanjut penelitian untuk mendapatkan informasi tentang cara-cara
mempergunakan teori dan proses,untuk tujuan praktis. Pokok yang di bahas dalam
tulisan pengembangan adalah menyangkut sesuatu bidang ilmu tertentu sesuai
keahlian penulis yang bersangkutan.Sebab tujuanya yaitu mengembangkan ilmu.
C. Kaidah Tulisan Ilmiah
1.
Sistematis
Artinya,penulisan karya ilmiah harus
di tulis secara sistematis. Sistematis di sini bisa di lakukan kalau
penulisanya memakai sistematika tertentu yang sudah di gariskan dalam
lingkungan ilmiah.Bahkan penelitian kuantitatif dengan kualitatif juga berbeda
sitematika penulisanya.Sekedar contoh,dalam penelitian kualitatif tidak biasa
memekai hipotesisi dan definisi operasional yng selama ini menjadi wilayah
penelitian kuantitatif.
2.
Logis
Logis
berarti bisa di nalar.Seseorang yang menulis tulisan ilmiah tentu saja apa yag
di bahas bisa di pahami oleh akal pembacanya.Termasuk di sini,membahas sesuatu
yang tidak absurb (tidak masuk akal)atau penuh mitos.Contoh sebuah tulisan yang
membahas bagaimana nasi satu kepal bisa mengenyangkan dalam waktu satu
minggu.Bisa jadi tulisan itu di sertai data-data yang ada,tetapi untuk saat ini
pendapat tersebut bisa di anggap tidak masuk akal.
3.
Cermat
Maksudnya adalah tulisan tidak di
tulis dengan sembarangan.Ada aturan ketat yang harus di patuhi.Itu juga berarti
penulis memang di harapkan memahami dan mengetahui setiap bagian yang di
tulisnya.Penulis di tuntut untuk kemampuanya dalam memahami pembacanya.Apakah
pembacanya itu dari kalangan mahasiswa,guru,dosen,atau ilmuan lain.
PENGERTIAN PARAGRAF
A. Paragraf Argumentatif
a. Pengertian
Paragraf Argumentatif
Menurut Keraf (2007:3) argumentasi adalah suatu
bentuk retorika yang berusaha untuk mempengaruhi sikap dan pendapat orang lain,
agar mereka percaya dan akhirnya bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan
oleh penulis. Melalui argumentasi penulis berusaha merangkaikan fakta-fakta,
sehingga penulis mampu menunjukkan apakah suatu pendapat atau suatu hal
tertentu itu benar atau tidak.
Argumentasi merupakan dasar yang paling fundamental
dalam ilmu pengetahuan. Karena melalui argumentasi, penulis dapat mengajukan
bukti-bukti atau menentukan kemungkinan untuk menyatakan sikap atau pendapat
mengenai suatu hal. (Keraf ,2007:3).
Pengertian paragraf argumentatif berdasarkan uraian
di atas adalah paragraf yang berisi
tentang ide atau gagasan yang disertai dengan alasan dan bukti-bukti yang kuat
agar dapat meyakinkan pembaca. Paragraf argumentasi sering dihubungkan dengan
prinsip-prinsip logika sebagai alat bantu utama. Logika itu sendiri sebagai
cabang ilmu yang berusaha menurunkan kesimpulan-kesimpulan melalui
kaidah-kaidah formal. Maka tulisan argumentatif yang ingin mengubah sikap dan
perilaku orang lain bertolak dari dasar-dasar tertentu , menuju sasaran yang hendal
dicapainya.
Dasar yang perlu diperhatikan sebagai tolak
argumentasi adalah :
1. Pengarang
harus mengetahui serba sedikit tentang subyek yang akan dikemukakannya ,
sekurang-kurangnya mengenai prinsip-prinsip ilmiahnya. Karena argumentasi
pertama-tama didasarkan pada fakta, informasi, evidensi, dan jalan pikiran yang
meng-hunung-hubungkan fakta-fakta dan informasi-informasi tersebut. Dengan
mengetahui serba sedikit obyek yang akan dikemuka-kannya, serta mengetahui
prinsip ilmiah yang mencakup subyek tadi, maka penulis dapat memperdalam
masalah tersebut dengan penelitian, observasi, dan autoritas untuk memperkuat
data atau informasi yang telah diperolehnya(Keraf, 2007:108).
2. Pengarang
bersedia mempertimbangkan pandangan-pandangan atau pendapat-pendapat yang bertentangan
dengan pendapatnya sendiri(Keraf, 2007:102). mempertimbangkan pendapat lawan
orang lain bertujuan untuk mengetahui apakah di dalam fakta-fakta yang diajukan
oleh orang lain dapat digunakan untuk memecahkan masalah ataupun untuk
memperkuat pendapat sendiri.
Selain dua prinsip dasar di atas, ada tiga prinsip
lain yang harus diperhatikan oleh penulis sebelum membuat tulisan argumentatif.
Ketiga prinsip tamnbahan tersebut adalah sebagai berikut :
3. Penulis
argumentatif harus berusaha mengemukakan pokok persoalannya dengan jelas,
menjelaskan mengapa memilih topik tersebut, dan mengemukakan pula konsep-konsep
serta istilah-istilah dengan tepat.
4. Penulis
harus menyelidiki persyaratan mana yang diperlukan untuk memperkuat
tujuan-tujuan yang mencakup persoalan yang akan dibahas.
5. Tulisan
argumentatif harus mampu menyampaikan maksud dan tujuan dalam penyampaian
sebuah masalah.
Persoalan-persoalan dalam tulisan srgumentatif
dibatasi oleh :
1. Argumentasi
harus mengandung kebenaran untuk mengubah sikap atau keyakinan orang mengenai
topik yang akan diargumentasikan.
2. Penulisan
argumentasi harus menghindari istilah-istilah yang dapat menimbulkan prasangka
tertentu.
3. Tulisan
argumentasi harus mampu menghilangkan ketidak-sepakatan, karena tujuan
penulisan paragraf argumentasi adalah
menghilangkan ketidaksepakatan itu.
4. Jika
ada ketidaksepakatan, penulis harus mampu menghilangkan ketidaksepakatan
itu(Keraf, 2007:104).
b. Ciri-Ciri
Paragraf Argumentatif.
1. Bersifat nonfiksi atau ilmiah;
2. Bertujuan menyakinkan orang lain
bahwa apa yang dikemukakan merupakan kebenaran;
3. Dilengkapi bukti-bukti berupa data,
tabel, dan gambar;
4. Ditutup dengan kesimpulan.
c. Bentuk-Bentuk
Penulisan Paragraf Argumentatif.
1. Pola
sebab-akibat.
Paragraf yang bertolak dari suatu peristiwa yang dianggap
sebagai sebab yang diketahui lalu bergerak maju menuju pada suatu kesimpulan
sebagai efek akibat. Ditandai dengan kata – kata sebab, karena, disebabkan,
dikarenakan dll.
Contah paragraf argumentatif pola sebab-akibat.
Pencemaran
lingkungan hampir terjadi di seluruh Indonesia, terutama di kota-kota besar.
Pencemaran itu, antara lain, polusi udara dari kendaraan bermotor yang
jumlahnya semakin banyak, pembuangan limbah industri dari pabrik-pabrik yang
tidak sesuai dengan prosedur, dan ulah masyarakat sendiri yang sering membuang
sampah sembarangan . Pencemaran tersebut dapat mengakibatkan kerugian yang
cukup besar. Misalnya udara menjadi kotor dan tidak sehat, menyebarnya berbagai
virus dan bakteri atau menjangkitnya wabah penyakit, serta bencana banjir
karena saluran-saluran air tersumbat oleh sampah.
2. Pola
akibat-sebab
Paragraf yang bertolak dari suatu peristiwa yang dianggap
sebagai akibat yang diketahui. Kemudian bergerak menuju sebab-sebab yang
mungkin telah menimbulkan akibat tadi.
Contah paragraf argumentatif pola akibat-sebab.
Jumlah
anak jalanan di kota-kota besar semakin hari semakin bertambah. Mereka memenuhi
jalan-jalan utama di pusat kota dengan segala tingkah dan aksinya. Berbagai
macam cara mereka lakukan agar dapat bertahan hidup di jalanan, dari cara yang
sopan hingga yang paling brutal. Mereka berkeliaran di jalan dan mencari hidup
dengan cara meminta-minta. Fenomena seperti ini mulai tampak menggejala ketika
krisis ekonomi melanda negara kita. Krisis yang berkepanjangan menjadi penyebab
kesulitan hidup di segala sektor/bidang.
B. Paragraf Persuasif
a. Pengertian
Paragraf Persuasif
Persuasif
adalah suatu seni verbal yang bertujuan untuk me-yakinkan seseorang agar
melakukan sesuatu yang dikehendaki pembicara atau penulis pada waktu ini atau
pada waktu yang akan datang (Keraf, 2007:118). Sehingga paragraf persuasif
dapat diartikan sebagai paragraf
yang isinya bertujuan untuk meyakinkan dan membujuk seseorang atau pembaca agar
melaksanakan dan menerima keinginan penulis.
Menurat Keraf (2007:121-124) Dasar-dasar persuasi dalam bukunya Rhetorica, aristoteles mengemukakan tiga syarat. Pertama
watak dan kredibilitas pembicaraan. Kedua, kemampuan pembucara mengendalikan emosi para hadirin.
Ketiga, bukti-bukti atau fakta-fakta yang diperlukan untuk membuktikan suatu
kebenaran.
1. Watak
dan kredibilitas
Karakter
atau watak merupakan salah satu faktor yang selalu harus diperhitungkan sesuai
dengan harapan penulis. Watak dan seluruh kepribadian penulis dapat diketahui
dari seluruh karangannya. Daya yang dipakai, pilihan kata, struktur kalimat,
tema, dan sebagainya merupakan
keseluruhan atau totalitas penulis. Singkatnya orang yang akan mengadakan
persuasi harus memiliki kualitas yang baik dan mempunyai keperrcayaan dalam
segala hak memiliki watak serta kemmpuan berpikir secara teratur,
mmemperlihatkan simpati, memperlihatkan sikap mempercayai orang lain agar orang
atau pendengar juga mempercayai apa yang kita katakana.
2. Kemampuan
mengendalikan emosi
Pengertian
mengendalikan emosi diartikan sebagai kesa-nggupan pembicara untuk mengobarkan
emosi dan sentiment hadirin, maupun kesanggupan memudakan atau memadamkan emosi
dan sentiment itu. Kemampuan tersebut, sekaligus juga merupakan aspek perbedaan
yang lain antara argumentasi dan persuasi.
Peesuasi
diarahkan kepada pengendalian emosi sehingga hadirin tidak diberi kesempatan
untuk berpikir atau menilai persoalan. Logika, perincian fakta yang dijelaskan
dengan sentuhan emosi harus sanggup menimbulkan tenaga untuk mencapai
kesepakatan yang dijadikan sebagai tujuan pengendalian emosi.
3. Bukti-bukti
Syarat
ketiga yang diperlukan agar pembicara dapat berhasil dalam persuasi adalah
kesanggupan untuk menyodorkan bukti-bukti (evidensi) penulisan bahasa
argumentasi maupun persuasi sama-sama menggunakan logika. Perbedaannya terletak
dalam kadar argumen-nya. Argumentasi menggunakan evidensi semaksimal mungkin.
Per-suasi yang dilakukan pembicara harus dapat diandalkan kebenarannya dan
tidak terlalu abstrak sifatnya bagi para hadirin.
b. Ciri-Ciri
Paragraf Persuasif
1.
Ada
fakta atau bukti untuk mempengaruhi atau membujuk pembaca;
2.
Bertujuan
mendorong, mempengaruhi dan membujuk pembaca;
3.
Menggunakan
bahasa secara menarik untuk memberikan sugesti (kesan) kepada pembaca.
c.
Bentuk
Tulisan Paragraf Persuasif
Contoh 1
Beras
organik lebih menguntungkan daripada beras non-organik. Mutu beras organik
lebih sehat , awet, dan lebih enak. Selain itu, beras organik tidak mencemari
lingkungan karena tidak me-nggunakan bahan kimia.Keuntungan yang didapat para
petani beras organik juga lebih tinggi. Petani beras organik mendapatkan
ke-untungan 34 % dari biaya prduksi, sedangkan petani beras nonorganik hanya
mendapat keuntungan 16 % dari biaya produksi. Oleh karena itu, mari kita
bertani dengan cara organik agar lebih mnguntungkan dan dapat meningkatkan
taraf hidup.
Contoh 2
Tidak dapat disangkal bahwa praktik berpidato menjadi
semacam “obat kuat’ untuk membangun rasa percaya diri. Jika rasa percaya diri
itu sudah besar, kita dapat tampil tenang tanpa digoda rasa malu, takut, dan
grogi. Ketenangan inilah yang menjadi modal utama untuk meraih keberhasilan
pidato. Oleh karena itu, marilah kita melaksanakan praktik berpidato agar kita
segera memperoleh keteram-pilan atau bahkan kemahiran berpidato.
C. Paragraf Naratif
a. Pengertian
Paragraf Naratif
Narasi dapat
diartikan sebagai cerita. Sebuah cerita adalah sebuah penulisan yang mempunyai
karakter, setting, waktu, masalah, mencoba untuk memecahkan masalah dan
memberikan solusi dari masalah itu (Nurudin. 2010 :71).
Menurut Nurudin
(2010 :71), narasi adalah bentuk tulisan yang berusaha menciptakan,
mengisahkan, merangkaikan tindak-tanduk perbuatan manusia dalam sebuah
peristiwa secara kronologis atau yang berlangsung dalam suatu kesatuan waktu
tertentu. Sehingga pengertian paragraf
narasi adalah paragraf yang menceritakan tentang peristiwa atau kejadian
tertentu secara urut berdasarkan waktu ter-jadinya.
Paragraf naratif
di bedakan menjadi dua jenis, yaitu :
1. Naratif
Ekspositoris (Narasi Teknis)
Narasi
ekspositoris pertama-tama bertujuan untuk me-nggugah pikiran para pembaca untuk
mengetahui apa yang dikisahkan. Sasaran utamanya adalah rasio, yaitu berupa perluasan pikiran para pembaca sesudah membaca
cerita tersebut ( Keraf, 2007:186). Dalam narasi ekspositoris, penulis menceritakan suatu
peristiwa berdasarkan data yang sebenarnya. Pelaku diceritakan mulai dari kecil
sampai saat ini sampai terakhir dalam kehi-dupannya. Penceritaan biasanya hanya
menonjolkan satu orang pelaku saja.
Karangan narasi ekpositoris bersifat
generalisasi, yaitu narasi yang menyampaikan suatu proses yang
umum, yang dapat dilakukan siapa saja, dan juga dapat dilakukan secara berulang-ulang
(Keraf, 2007: 187) paragraf narasi ekspositoris juga berkaitan dengan ekposisi,
sehingga ketentuan eksposisi juga ber-laku pada penulisan narasi ekspositoris.
Ketentuan ini berkaitan dengan penggunaan bahasa yang logis, berdasarkan fakta
yang ada, tidak memasukkan unsur sugestif atau bersifat objektif.
Contoh:
Siang itu, Sabtu pekan lalu, Ramin
bermain bagus. Mula-mula ia menyodorkan sebuah kontra melodi yang hebat, lalu
bergantian dengan klarinet, meniupkan garis melodi utamanya. Ramin dan tujuh
kawannya berbaris seperti serdadu masuk ke tangsi, mengiringi Ahmad,
mempelai pria yang akan menyunting Mulyati, gadis yang rumahnya di
Perumahan Kampung Meruyung. Mereka membawakan lagu “Mars Jalan” yang
dirasa tepat untuk mengantar Ahmad, sang pengantin. Sumber : (Tempo, 20
Februari 2005)
2. Naratif
Sugestif
Narasi
sugestif adalah narasi yang bertujuan untuk mem-berikan suatu maksud tertentu,
menyampaikan suatu amanat ter-sembunyi kepada para pembaca atau pendengar
sehingga tampak seolah-olah melihat atau merasakan tindakan atau perbuatan yang
dirangkai dalam suatu kejadian atau peristiwa tertentu..
Contoh:
Patih Pranggulang menghunus
pedangnya. Dengan cepat ia mengayunkan pedang itu ketubuh Tunjungsekar. Tapi aneh, sebelummengenai tubuh
Tunjungsekar, pedang itu jatuh ke tanah. Patih Pranggulang
memungut pedang itu dan membacokkan lagi ke tubuh Tunjungsekar. Tiga
kali Patih Pranggulang melakukan hal itu. Akan tetapi, semuanya gagal.Sumber : (Terampil Menulis Paragraf, 2004 : 66)
b. Ciri-Ciri Paragraf Naratif
1. Ada tokoh, tempat, waktu dan suasana
yang diceritakan;
2. Kejadian diurutkan sesuai urutan
waktu atau urutan peristiwa;
3. Tidak hanya terdapat pada karya
fiksi tetapi juga terdapat pada karya non fiksi.
D. Paragraf Deskriptif
a. Pengertian
Paragraf Deskriptif
Deskriptif dapat diartikan sebagai gambaran, ulasan
atau rincian. Menurut Finoza dalam Nurudin (2010:60). Deskriptif adalah bentuk
tulisan yang bertujuan memperluas pengetahuan dan pe-ngalaman pembaca dengan
jalan melukiskan objek yang sebenarnya.
Dalam tulisan deskriptif, penulis tidak
boleh mencampuradukkan keadaan yang
sebenarnya dengan interprestasinya sendiri.
Paragraf
Deskriptif adalah paragraf yang menggambarkan suatu objek berdasarkan hasil
penelitian, pengamatan, perasaan, dan pengalaman yang dialami oleh penulisnya.
Tujuan paragraf deskriptif adalah pembaca memperoleh
kesan atau informasi sesuai dengan pengamatan, perasaan, dan pengalaman
penulisnya, sehingga seolah-olah pembaca melihat, merasakan, dan mengalami
sendiri obyek tersebut untuk mencapai kesan yang sempurna. Penulis deskriptif
menggambarkan obyek sesuai dengan kesan, fakta, dan citraan.
b. Ciri-Ciri
Paragraf Deskriptif
1. Menggambarkan
sesuatu secara detail;
2. Penggambaran
tersebut dilakukan sejelas-jelasnya dengan me-libatkan kesan indera;
3. Membuat
pembaca merasakan sendiri atau mengalami sendiri.
c. Bentuk
Tulisan Paragraf Deskriptif
1. Deskripsi
Imajinatif atau Impresionis
Deskripsi Imajinatif atau
Impresionis adalah
paragraf yang melukiskan ruang atau tempat berlangsungnya suatu peristiwa.
Pelukisannya harus dilihat dari berbagai segi agar ruang tersebut tergambar
dengan jelas dalam pikiran dan perasaan pembaca.
Contoh :
Malam
gelap gulita di hulu sungai Brantas. Ketahuan. Sebentar-sebentar hiruk pikuk
yang tiada berketentuan itu menjadi satu dengan gegap gempita yang mendasyatkan
dan mengecilkan hati, pertanda seorang raja rimbah alah jatuh ke tanah untuk
selama-lamanya.
Ramai
peperangan di rimba itu dan rupanya tak akan berhenti. Tak ada kasihan-
mengasihani, yang rebah tinggal rebah, tak akan ada yang
mengangkatnya.Sekali-kali terang cuaca hutan belantara itu, seperti diserang
api. Tetapi kenyataanya dalam sekejap mata hilangnya cahaya yang berani
menyerbukan dirinya ke tengah peperangan itu, dimusnahkan oleh musuh lamanya
“raja gulita”.
2. Deskripsi
faktual atau ekspositoris
Deskripsi faktual atau ekspositoris adalah paragraf yang menggambarkan
suatu hal atau orang dengan mengungkapkan identitasnya secara apa adanya
sehingga pembaca dapat memba-yangkan keadaannya. Agar suatu objek mampu
membangkitkan daya khayal pada diri pembaca, penulis harus melukiskannya dari
berbagai sudut pandang. Semakin rinci penulisannya, semakin jelas tergambar
dalam bayangan pembaca.
Apabila objek yang dilukiskan itu adalah seseorang,
perinciannya dapat dilakukan terhadap aspek fisik maupun aspek rohaninya. Aspek
rohani meliputi perasaan, watak, bakat, pe-ranannya dalam suatu bidang kerja
dsb.
Contoh :
Di sudut dekat pintu duduk seorang
laki-laki. Namanya Paijo. Dia memakai celana pendek dan baju kaos yang telah
sobek-sobek, yang melukiskan kemelaratan dan kemiskinan yang sehari-hari
dideritanya. Pada dadanya yang bidang dan berisi, lengannya yang kukuh penuh
urat dapat dilihat betapa berat pekerjaan sehari-harinya.
Air mukanya yang keruh, pipinya yang
kempis dan matanya yang cekung menyatakan bahwa jalan hidup yang telah
ditempuhnya penuh rintangan dan duri.
E. Paragraf Eksposisi
a. Pengertian
Paragraf Eksposisi
Eksposisi
berarti membuka dan memulai. Bahkan ada yang mengatakan exposition means explanation (ekposisi berarti penjelasan) ini
berarti tulisan eksposisi adalah tulisan yang berusaha untuk memberitahu,
mengupas, menguraikan, atau menerangkan sesuatu. Kamus Besar Bahasa Indonesia
mengartikannya dengan uraian (paparan) tentang maksud dan tujuan (misalnya sebuah karangan) (Nurudin,
2010:67). Paragraf eksposisi adalah
jenis paragraf yang bertujuan untuk menerangkan dan menjelaskan sesuatu
pemasalahan terhadap pembaca agar pembaca mendapatkan gambaran dan penjelasan detail tentang suatu
permasalahan yang dimaksudkan pengarang.
b. Ciri-Ciri
Paragraf Eksposisi
1. Bersifat
nonfiksi atau ilmiah;
2. Bertujuan
untuk menjelaskan atau menerangakan suatu hal;
3. Bahasa
tulisan disampaikan secara lugas dengan menggunakan bahasa baku;
4. Tulisan
atau karangan bersifat netral dan tidak memihak ataupun memaksakan sikap
penulis terhadap pembaca.
c. Bentuk
Tulisan Paragraf eksposisi
1. Pola
pengembanga umum-khusus (Deduksi)
Pada pola ini
paragraf eksposisi dikembangkan berdasar-kan hal-hal yang bersifat umum,
kemudian menjelaskan dengan kalimat-kalimat pendukung yang khusus.
2. Pola
pengembangan khusus-umum (Induksi)
Pola paragraf
yang dikembangkan berdasarkan hal-hal yang bersifat khusus, kemudian dijelaskan
dengan kalimat-kalimat yang bersifat umum.
3. Pola
perbandingan
Paragraf eksposisi
yang isinya merupakan perbandingan antara kelebihan dan kekurangan, kerugian
dan keuntungan, serta kesamaan dan perbedaan.
Contoh
:
Lagu-lagu
tersebut kurang memperhatikan nilai yang ingin dita-namkan pada diri anak dan
lebih memperhatikan kebutuhan pasar. Jadi, temanya bersifat temporer karena
mengikuti perubahan selera pasar. Unsur kesamaan yang masih ditemukan dalam
kedua kelompok lagu ini ialah para pencipta lagu masih berusaha menciptakan
irama yang gembira dan ritme yang sederhana, seperti dalam kehidupan anak-anak
itu sendiri.
4. Pola
analogi
Paragraf
eksposisis yang menunjukkan kesamaan-kesamaan dua hal yang bersamaan kelasnya
tetapi tetap memperhatikan kasamaan segi ataupun fungsi.
Contoh :
Struktur
suatu karangan atau buku pada hakikatnya mirip atau sama dengan suatu pohon.
Bila pohon dapat diuraikan menjadi batang, dahan, ranting, dan daun, maka
karangan atau buku dapat diuraikan menjadi tubuh karangan, bab, sub – bab, dan
paragraf. Tubuh karangan sebanding dengan batang, bab sebanding dengan dahan,
sub-bab sebanding dengan ranting, dan paragraf sebanding dengan daun.
5. Pola
pertentangan atau kontras
Paragraf yang mempertentangkan dengan gagasan lain. Kata
hubung (biarpun, walaupun,berbeda,berbeda dengan, akan tetapi, sebaliknya,
melainkan, namun, meskipun begitu.)
6. Pola pengembangan klasifikasi
Pengembangan
paragraf dengan cara mengelompokkan hal-hal yang mempunyai kesamaan-kesamaan
tertentu.
Contoh
;
Pemerintah
akan memberikan bantuan rumah atau bangunan kepada korban gempa. Bantuan pembangunan
rumah atau bangunan tersebut disesuaikan tingkat kerusakannya. Warga yang
rumahnya rusak ringan mendapatkan bantuan sekitar 10 juta.warga yang rumahnya
rusak sedang mendapat bantuan sekitar 20 juta. Warga yang rumahnya rusak berat
mendapatkan sekitar 30 juta . Calon penerima bantuan tersebut ditentukan oleh
aparat desa setempat dengan pengawalan dari pihak LSM.
7. Pola
pengembangan proses
Pola pengembangan paragraf yang ide pokok paragrafnya
disusun berdasarkan urutan proses terjadinya sesuatu.
8. Pola pengembangan definisi
Paragraf yang
berupa pengertian atas istilah yang terkandung dalam kalimat topik yang
memerlukan penjelasan panjang agar maknanya tersampaikan kepada pembaca.
Contoh :
Ozone
therapy adalah
pengobatan suatu penyakit dengan cara memasukkan oksigen murni dan ozon
berenergi tinggi ke dalam tubuh melalui darah.Ozone therapy
merupakan terapi yang sangat bermanfaat bagi kesehatan, baik untuk menyembuhkan
penyakit yang kita derita maupun sebagai pencegah penyakit.
9. Pola
pengembangan contoh atau ilustrasi
Paragraf
yang berfungsi untuk memperjelas suatu uraian, khususnya uraian yang bersifat
abstrak. Kata penghubung (contohnya, umpamanya,misalnya).
Contoh
:
Sampai
hari ke-8, bantuan untuk para korban gempa Yogyakarta belum merata. Hal ini
terlihat di beberapa wilayah Bantul dan Jetis. Misalnya, di Desa Piyungan.
Sampai saat ini, warga Desa Piyungan hanya makan singkong. Mereka mengambilnya
dari beberapa kebun warga. Jika ada warga yang makan nasi, itu adalah sisa-sisa
beras yang mereka kumpulkan dibalik reruntuhan bangunan. Kondisi seperti ini
menunjukkan bahwa bantuan pemerintah kurang merata.
10. Pola pengembangan sebab akibat
Pola
pengembangan dimana sebab bisa bertindak sebagai gagasan utama, sedangkan
akibat sebagai perincian pengemba-ngannya. Atau sebaliknya, akibat sebagai
gagasan utama, se-dangkan untuk memahami sepenuhnya akibat itu perlu
dikemu-kakan sejumlah sebab sebagai perinciannya.
PROPOSAL
Pengertian Proposal
Proposal adalah rencana kegiatan
yang dituliskan dalam bentuk rancangan kerja yang akan dilaksanakan. Rencana
tersebut harus dituliskan agar pihak yang berkepentingan dapat memahami dengan baik.
Pihak yang berkepentingan tersebut, antara lain pemberi izin dan penyumbang
dana, seperti kepala sekolah, orang tua, sponsor, polisi, lurah, atau kepala
desa.
A.
Macam-Macam Proposal
Macam-macam Proposal ada 3:
1. Proposal Kegiatan
Usulan yang dibuat penulis kepada
atasan/ pimpinan untuk mengadakan sebuah acara tertentu.Misalnya :
Usulan mengajukan sebuah seminar, Isro’ mi’roj, pembagian zakat
2. Proposal Proyek
Proposal yang dibuat ketika
seseorang akan membuat bangunan/ fasilitas tertentu, biasanya dibuat oleh
kontraktor yang diajukan kepada pejabat berwewenang dan unutk mendapatkan/
memenangkan proyek, biasanya melalui proses tender. Misalnya : Seorang
kontraktor ingin membangun jalan, kemudian si kontraktor membuat proposal untuk
diajukan kepada pejabat yang berwewenang, untuk keputusan dia mendapat
pekerjaan itu atau tidak, dia harus bersaing dengan kontraktor lain saat
perebutan tender.
3. Proposal Penelitian
Proposal yang dibuat ketika akan
mengadakan penelitian. Dalam proposal penelitian ada dua yaitu: kuantitatif dan
kualitatif. Penelitian kuantitatif, karena permasalahan yang diteliti sudah
jelas, realitas dianggap tunggal, tetap, teramati, pola fikir deduktif, maka
proposal penelitian kuantitatif dipandang sebagai “blue print” yang harus
digunakan sebagai pedoman baku untuk melaksanakan dan mengendalikan penelitian.
Sedangkan dalam metode kualitatif yang berpandangan bahwa, realitas dipandang
sesuatu holistik, kompleks, dinamis, penuh makna, dan pola fikir induktif,
sehingga permasalahan belum jelas, maka proposal penelitian kualitatif yang
dibuat masih bersifat sementara, dan akan berkembang setelah penelitian
memasuki obyek penelitian atau situasi sosial. Jadi perbedaan utama antara
proposal yang menggunakan metode penelitian kuantitatif dan kualitatif adalah
terletak pada, yang kuantitatif proposalnya spesifik dan sudah baku, dan yang
kualitatif masih bersifat umum dan sementara.
Ø Sistematika proposal penelitian kuantitatif
a. Pendahuluan
1. Latar belakang
2. Identifikasi masalah
3. Batasan masalah
4. Rumusan masalah
5. Tujuan penelitian
6. Kegunaan hasil penelitian
b. Landasan teori, kerangka berfikir
dan pengajuan hipotesis
1. Deskripsi teori
2. Kerangka berfikir
3. hipotesis
c. Prosedur penelitian
1. Metode
2. Populasi dan sampel
3. Instrumen penelitian
4. Teknik pengumpulan data
5. Teknik analisis data
d. Organisasi dan jadwal penelitian
1. Oeganisasi penelitian
2. Jadwal penelitian
e. Biaya yang diperlukan
Ø Sistematika proposal penelitian kualitatif
a. Pendahuluan
1. Latar belakang
2. Fokus penelitian
3. Rumusan masalah
4. Tujuan penelitian
5. Manfaat penelitian
b. Kajian teori
c. Prosedur penelitian
1. Metode, dan alasan menggunakan
metode
2. Tempat penelitian
3. Instrumen penelitian
4. Sampel sumber data
5. Teknik pengumpulan data
6. Teknik analisis data
7. Rencana pengujian keabsahan data
d. Organisasi dan jadwal penelitian
1. Organisasi penelitian
2. Jadwal penelitian
e. Biaya yang diperlukan
v Menurut jenisnya proposal dibagi
menjadi 3 yaitu:
a. Formal
b. Semiformal
c. Nonformal
v Ada
banyakjenis proposal yang
berkaitan dengan aktifitas manusia dikehidupan ini. Secara umum, berikut ini
beberapa jenis proposal yang biasa dibuat dan diajukan banyak orang:
1.
Proposal bisnis,
contohnya proposal pendirian usaha.
2.
Proposal proyek,
contohnya proposal pengajuan dana kepada lembaga donor.
3.
Proposal penelitian,
contohnya proposal skripsi, tesis, dan disertasi.
4.
Proposal kegiatan,
contohnya proposal kegiatan seminar, pelatihan, dan lomba.
B.
Setruktur proposal yaitu:
a. Latar Belakang
b. Nama Kegiatan
c. Tema Kegiatan
d. Tujuan Kegiatan
e. Peserta
f. Hasil yang Diharapkan
g. Panitia Penyelenggara
h. Alokasi Dana
i.
Waktu dan Pelaksanaan
j.
Penutup
C. Ciri-ciri
Proposal:
a.
Proposal
meringkas kegiatan yang akan dilakukan
b.
Sebagai
pemberitau pertama suatu kegiatan
c.
Berisikan
tujuan – tujuan, latar belakang acara
d.
Pastinya
proposal itu berupa lembaran – lembaran pemberitahuan yang telah dijilit yang
nantinya diserakan kepada pihak yang bersangkutan
D. Fungsi
Proposal
Proposal memiliki fungsi
yang sangat penting bagi perseorangan atau lembaga yang akan melakukan usaha,
program, atau kegiatan. Fungsi dari proposal adalah sebagai berikut:
1.
Fungsi proposal untuk
melakukan penelitian yang berkenaan dengan agama, sosial, politik, ekonomi,
budaya, dan sebagainya.
- Fungsi
proposal untuk mendirikan usaha kecil, menengah, atau besar.
- Fungsi
proposal untuk mengajukan tender dari lembaga-lembaga pemerintah atau
swasta.
- Fungsi
proposal untuk mengajukan kredit kepada bank.
- Fungsi
proposal untuk mengadakan acara seminar, diskusi, pelatihan, dan
sebagainya.
E.
Sistematik Penulisan Proposal
a.
Pendahuluan
Berisi
tentang hal-hal dan kondisi umum yang melatar belakangi dilaksanakan kegiatan
tersebut. Hubungan kegiatan tersebut dengan kegiatan sehari-hari (nyata).
Point-point pembahasan pada pendahuluan ini, mengacu pada komponen S-W-O-T yang
telah dibahas sebelumnya.
b.
Dasar pemikiran
Berisi
tentang dasar yang digunakan dalam pelaksanaan, misalnya: Tri Darma Perguruan Tinggi, program kerja
pengurus dan lain-lain. Jika kegiatan tersebut bukan dari organisasi, maka di
dasarkan secara umum, misalnya: Peraturan Pemerintah No sekian.
c.
Tujuan kegiatan
Tujuan
yang ingin dicapai dalam kegiatan tersebut (umum dan khusus). Tentukan juga
keluaran (output)yang dikehendakin seperti, Contoh: memperoleh kader-kader
KMHDI, memberi pengetahuan manajerial dan leadership bagi calon anggota KMHDI.
d.
Tema kegiatan
Tema
yang diangkat dalam kegiatan tersebut.
e.
Jenis kegiatan
Diperlukan
untuk menjelaskan rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan jika kegiatan lebih
dari satu. Menjelaskan bentuk dari kegiatan tersebut, misalnya: berupa seminar,
pelatihan, penyampaian materi secara lisan, tanya jawab, simulasi, dll.
f. Target kegiatan
Berisi
uraian lebih perinci dari tujuan (point 3) mengenai ukuran-ukuran yang
digunakan sebagai penilaian tercapai atau tidaknya tujuan.Contoh: target acara
ini adalah untuk mencetak minimal 25 orang pelatih KMHDI yang masing-masing
diantaranya memiliki kemampuan yang sesuai dengan standaryang Buku pedoman
Kaderisasi Jilid I KMHDI dan setiap pelatihan tersebut memiliki nilai rata-rata
di atas 7 dalam setiap materi pelatihan.
g.
Sasaran/ peserta kegiatan
Menjelaskan tentang objec atau siapa
yang mengikuti kegiatan tersebut (peserta).
h.
Waktu dan tempat pelaksanaan
Tentukan
dimana, hari, tanggal, bulan, tahun akan dilaksanakannya kegiatan tersebut.
i.
Anggaran dana
Dalam
anggaran ini hanya tertulis jumlah total dan pengeluaran yang diperkirakan oleh
panitia, sedangkan rinciannya dibuat di dalam lampiran tersendiri.
j.
Susunan panitia
Dalam
halaman bagian susunan panitia, yang di tulis hanya panitia inti, seperti:
Pelindung, Ketua panitia, Sekretaris, Bendahara. Sedangkan panitia selengkapnya
dicantumkan dalam lampiran.
k.
Jadwal kegiatan
Dibuar
sesuai dengan Kalender Kegiatan yang telah terlampir sebelumnya, tetapi dapan
juga ditulis terlampir apabila jadwalnya banyak.
l.
Penutup
Berisi
tentang harapan yang ingin dicapai atau mohon dukungan kepada semua pihak. Di
tutup dengan lembar pengesahan proposal. Terakhir di ikuti dengan lampiran.
Ø Perhatian khusus terhadap masalah
penganggaran pada proposal
a. Penganggaran adalah rencana
pemasukan dan pengeluaran keuangan yang dibuat untuk kegiatan tertentu.
b. Proses penyusunan anggaran
1. Sesuai dengan rencana kegiatan
2. Sesuai dengan sumber pendapatan
3. Meliputi tertib aturan yang
berkaitan dengan keluar dan masuknya keuangan kegiatan.
c. Mengontrol anggaran
1. Pengeluaran sesuai dengan rencana
2. Sekecil apapun pengeluaran dan
pemasukan harus dicatat
3. Dapat dipertanggungjawabkan sesuai
dengan aturan
d. Pencairan dana
1. Sponsorship
Proposal: usul, rencana, penawaran
dengan pihak lain.
2. Sumber dana
Donatur, iuran anggota atau kas
organisasi, kontribusi peserta kegiatan, wirausaha.