Apikan membakar
Tapi tak pernah menghapuskan sabarmu
Hujan kan menggugur
Tapi tak pernah menghanyutkan gigihmu
Tetesan ilmu mu
Terus mencoba menembus tandusnya sahara akalku
Rajutan do’a mu membentang sepanjang langit
Senantiasa memohon untuk kokohnya jiwaku
Berpayah payah engkau meniti anak tangga
Berpayah payah pula hatimu setelah tahu bahwa aku sedikitpun tak melihat kehadiranmu
Bahkan aku merajut mimpi sambil melipat mataku
Kalah engkau memutus mimpiku
Gumamku mencercamu
Tapi engkau guru ku
Senyum ikhlas mu tak membalas cercaku
Mengapa tak kau tampar saja aku
Mengapa tak kau tinggalkan saja aku
Mengapa engkau masih terus membentangkan do’a untuk ku
Guru ku mungkin esok takdir tak mengizinkan aku kembali lelah menghirup aromamu
Mendengar jejak langkahmu melukis bayangmu
Tapi,
Sedikitpun belum luruh
Aku tak tau malu
Kini sungguh bersimpuh
Aku butuh engkau guruku
Aku memohon maaf mu
Aku memohon rodho mu
Aku memohon do’a mu selalu untuk ku
Terimakasih guruku
Senyum saying mu belum mampu aku tiru
Pelukan tabah mu belum mampu aku tau
Deras ilmu mu belum mampu membangun kan ku
Tapi, guru ingantan ku akan pengorbananmu
Telah ku pahat di jantungku
Berdetak seiring gerak mengalir bersama darah mengalun semerdu nafas
Waktu ini
Gemelut udara telah bersaksi
Membangun kan jiwa kerdil ini untuk menyadari hadirmu
Mengumpulkan patahan mozaik ilmu mu yang telah lama mengetuk akal ku
Terima kasih guruku
Biarlah waktu menghalai pertemuan ku dengan mu
Tapi engkau tetaplah orang tua ku
No comments:
Post a Comment